oplus_32

(Berdasarkan Matius 24:36–44)

Ada satu pesan penting yang Tuhan Yesus sampaikan kepada kita: Ia akan datang kembali, tetapi tidak seorang pun tahu kapan waktunya. Yesus tidak memberikan tanggal atau tanda khusus, karena yang Ia inginkan bukan perhitungan, melainkan kesiapan hati. Dan kesiapan itu bukan hanya tentang menunggu, tetapi juga tentang menghadirkan perubahan dalam hidup dan lingkungan kita.

Yesus mengingatkan kita tentang zaman Nuh. Pada waktu itu orang-orang hidup seperti biasa—makan, minum, bekerja, menikah. Tidak ada yang salah dari semua itu. Yang menjadi masalah adalah hati mereka tidak peka lagi kepada Tuhan. Mereka sibuk, tetapi tidak berubah. Mereka hidup, tetapi tidak bergerak menuju kebaikan. Mereka menjalani hidup seperti tidak ada yang perlu diperbaiki, sampai akhirnya air bah datang secara mendadak.

Firman ini mengajak kita melihat diri sendiri. Kita pun hidup dalam kesibukan: pekerjaan, keluarga, tuntutan hidup. Tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi Tuhan memanggil kita agar jangan sampai rutinitas membuat kita berhenti bertumbuh. Jika hati kita tidak berubah, lingkungan kita pun sulit berubah. Tuhan ingin kita menjadi pribadi yang peka, yang memperbaiki diri, dan membawa terang di tempat kita berada.

Yesus lalu menceritakan tentang dua orang yang bekerja di ladang dan dua perempuan yang menggiling gandum. Mereka melakukan pekerjaan yang sama, tetapi akhirnya berbeda. Yang satu siap, yang lain tidak. Artinya, Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan, tetapi siapa kita di dalamnya. Orang yang hatinya dekat dengan Tuhan akan memancarkan perubahan—dalam perkataan, sikap, kasih, dan kesetiaan.

Karena itu Yesus berkata, “Berjaga-jagalah.”
Berjaga bukan berarti takut, tetapi hidup dengan hati yang terus diperbarui.
Berjaga berarti tidak puas dengan keadaan lama yang buruk.
Berjaga berarti mau berubah dari hal yang kecil: lebih sabar, lebih mengampuni, lebih jujur, lebih rendah hati, lebih tekun berdoa, dan lebih peka pada orang lain.

Perubahan yang Tuhan kehendaki bukan sesuatu yang besar dan mendadak.
Perubahan dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita lakukan hari ini:

  • memilih perkataan yang membangun,
  • memilih untuk mengampuni,
  • memilih untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan,
  • memilih untuk mendekat kepada Tuhan daripada menjauh.

Kita tidak tahu kapan Tuhan datang, tetapi kita tahu bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk berubah dan membawa perubahan bagi orang lain. Hidup siap berarti hidup yang terus diperbarui. Dan ketika kita berubah, lingkungan kita akan merasakan dampaknya. Keluarga akan lebih damai. Gereja lebih kuat. Komunitas lebih sehat. Dunia kecil di sekitar kita menjadi lebih terang.

Firman Tuhan berkata:
“Sebab itu, hendaklah kamu siap sedia.”
Siap bukan hanya untuk menyambut Tuhan, tetapi siap menjadi alat-Nya—membawa perubahan yang baik dan benar.

Biarlah setiap hari kita berkata,
“Tuhan, ubahlah hatiku, dan pakailah hidupku untuk mengubah sekelilingku.”

Kiranya Tuhan mendapati kita bukan hanya menunggu, tetapi menghadirkan perubahan—bersama, setia, dan penuh kasih.

Tuhan Yesus memberkati.
Maranatha. (Disarikan dari Khotbah Minggu, 30-11-2025, Bernard Simamora)