Tagar #KaburAjaDulu belakangan ini menjadi perbincangan hangat di media sosial. Istilah ini sering dikaitkan dengan konsep “melarikan diri” dari situasi yang dianggap sulit atau tidak nyaman. Namun, apakah benar bahwa tindakan “kabur” selalu negatif? Dalam artikel ini, kita akan mengkaji perspektif positif dari tagar ini serta bagaimana penerapan konsep ini dengan berpikir secara dewasa.

Makna di Balik #KaburAjaDulu

Secara harfiah, “kabur” memiliki konotasi negatif karena berhubungan dengan lari dari tanggung jawab atau masalah. Namun, jika ditelaah lebih dalam, dalam beberapa konteks, “kabur” bisa menjadi bentuk perlindungan diri dan strategi untuk mengambil jarak sebelum mengambil keputusan yang lebih matang.

Perspektif Positif dari #KaburAjaDulu

  1. Mengenali Batas Diri
    Tidak semua situasi harus dihadapi dengan segera. Kadang, seseorang perlu mengambil waktu untuk menjernihkan pikiran sebelum kembali menghadapi masalah. Menghindari situasi yang membebani mental secara berlebihan bisa menjadi bentuk self-care.
  2. Mencegah Keputusan Emosional
    Saat berada dalam tekanan, keputusan yang diambil sering kali bersifat impulsif. “Kabur” dalam arti mengambil jarak sejenak dapat membantu seseorang berpikir lebih objektif sebelum bertindak.
  3. Memberikan Kesempatan untuk Refleksi
    Mengambil jeda dari suatu permasalahan bisa memberikan ruang untuk refleksi yang lebih dalam. Dengan berpikir lebih jernih, seseorang dapat menemukan solusi yang lebih baik dan rasional.
  4. Menghindari Konflik yang Tidak Perlu
    Dalam beberapa kondisi, menjauh dari situasi yang memanas bisa mencegah pertikaian yang tidak produktif. Ini juga merupakan bagian dari kecerdasan emosional dalam menyikapi konflik.

Berpikir Dewasa dalam Menggunakan Konsep #KaburAjaDulu

Meskipun “kabur” bisa memiliki aspek positif, tetap ada batasannya. Berpikir dewasa dalam menerapkan konsep ini berarti memahami kapan harus “kabur” dan kapan harus menghadapi sesuatu secara langsung.

  1. Tidak Menggunakan “Kabur” sebagai Alasan Menghindari Tanggung Jawab
    Jika situasi menuntut penyelesaian segera, maka menghadapi masalah secara langsung tetap menjadi pilihan yang lebih bijaksana.
  2. Menggunakan Waktu Jeda Secara Produktif
    Menghindar bukan berarti mengabaikan. Waktu yang diambil harus dimanfaatkan untuk introspeksi, mencari solusi, dan mempersiapkan diri untuk kembali menghadapi realitas.
  3. Membedakan Situasi yang Perlu Dihadapi dan yang Perlu Dijauhi
    Tidak semua hal harus diperjuangkan. Ada situasi di mana menjauh adalah tindakan terbaik, seperti dalam hubungan yang toksik atau lingkungan yang tidak mendukung kesehatan mental.

Tagar #KaburAjaDulu tidak selalu memiliki arti negatif jika digunakan dengan cara yang tepat. Dalam beberapa situasi, menjauh sementara dapat menjadi strategi yang bijak untuk melindungi diri, mencegah keputusan impulsif, dan memberikan ruang untuk refleksi. Namun, berpikir dewasa dalam menerapkannya sangat penting agar tidak menjadi bentuk pelarian yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, pemahaman yang matang terhadap kapan harus menghadapi dan kapan harus mengambil jarak menjadi kunci utama dalam menerapkan konsep ini secara positif.

Bernard Simamora, S.Si., S.IP., S.H., M.H., M.M., tinggal di Bandung asal Doloksanggul Humbang Hasundutan.