Siang dan malam berlalu tanpa hadirmu,
Hanya setumpuk rindu meraja di kalbu.
Langit muram, waktu berjalan perlahan,
Aku terjebak sunyi yang tak berkesudahan.
Malam-malam kelabu mendekap hati,
Sepi berbisik, menggema di relung nurani.
Tanpamu, dunia kehilangan warna,
Aku tersesat, tanpa arah, tanpa cahaya.
Kau bukan sekadar cinta, tapi sahabat,
Pelipur lara dalam setiap hikayat.
Tanpamu, langkahku goyah dan pilu,
Seperti ombak kehilangan dermaga.
Kupeluk kenangan dalam diam,
Merangkai harapan di sela kelam.
Kutanyakan angin tentang jejakmu,
Namun jawabnya sunyi dan membisu.
Mungkinkah waktu akan berpihak?
Ataukah jarak terus menorehkan retak?
Aku tetap menunggu di persimpangan,
Menggenggam rindu dalam kesabaran.
Namun hingga hari itu menyapa,
Kan kutitipkan rinduku pada angin senja.
Bersama cinta yang tak pernah sirna,
Menunggumu, setia tak berbatas waktu.
(BSIM, 2024)