oplus_18

Minggu, 21 Desember 2025
Roma 1:1–7; Matius 1:18–25

Hidup sering kali membawa kita pada jalan yang tidak kita rencanakan. Ada saat-saat ketika langkah terasa ringan, tetapi ada juga masa ketika kita berjalan dengan hati yang berat, penuh tanya, bahkan takut. Di tengah perjalanan itu, firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan satu kebenaran yang meneguhkan: kita tidak berjalan sendirian. Kita berjalan bersama dalam penyertaan Tuhan.

Dalam Roma 1:1–7, Rasul Paulus memperkenalkan dirinya sebagai hamba Kristus Yesus yang dipanggil dan diutus oleh Allah. Paulus tidak memulai dengan cerita tentang kehebatannya, melainkan tentang panggilan dan kasih karunia Tuhan. Ia menegaskan bahwa hidup orang percaya berdiri di atas inisiatif Allah. Kita dipanggil bukan karena kemampuan kita, tetapi karena kasih-Nya. Penyertaan Tuhan nyata sejak awal perjalanan iman kita.

Paulus juga menekankan bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang membawa damai sejahtera. Damai ini bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan kepastian bahwa Allah hadir dan bekerja di tengah segala keadaan. Ketika kita menyadari bahwa hidup ini ada dalam rencana-Nya, langkah kita menjadi lebih tenang. Kita belajar berjalan dengan iman, bukan hanya dengan perhitungan manusia.

Kisah dalam Matius 1:18–25 membawa kita pada pengalaman Yusuf, seorang yang sederhana, namun memiliki hati yang taat. Yusuf menghadapi kenyataan yang sangat berat. Maria, tunangannya, mengandung sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Dalam budaya saat itu, ini adalah aib besar. Yusuf punya hak untuk meninggalkan Maria, bahkan secara diam-diam. Ia pasti bergumul, bingung, dan terluka.

Namun di tengah kebingungannya, Tuhan hadir. Melalui mimpi, malaikat Tuhan menyampaikan pesan yang menenangkan: apa yang terjadi adalah karya Roh Kudus. Yusuf diminta untuk tidak takut. Di sinilah kita melihat penyertaan Tuhan yang nyata. Tuhan tidak selalu mengubah situasi secara instan, tetapi Ia memberi kejelasan dan kekuatan untuk melangkah.

Yusuf memilih taat. Ia menerima Maria dan menjalani jalan yang Tuhan tetapkan, meski penuh risiko dan belum tentu dimengerti orang lain. Ketaatan Yusuf menunjukkan bahwa berjalan bersama Tuhan berarti percaya, bahkan ketika jalan itu tidak mudah. Penyertaan Tuhan tidak selalu membuat hidup menjadi nyaman, tetapi selalu memberi makna dan arah.

Nama yang diberikan kepada anak itu adalah Yesus, yang berarti “Tuhan menyelamatkan.” Ia juga disebut Imanuel, Allah beserta kita. Ini adalah inti dari penyertaan Tuhan. Allah tidak tinggal jauh di surga, tetapi datang dan berjalan bersama manusia. Dalam Yesus, Tuhan hadir di tengah ketakutan, kebingungan, dan kelemahan kita.

Bagi kita hari ini, pesan ini sangat relevan. Mungkin kita sedang menghadapi keputusan sulit, masalah keluarga, pekerjaan yang tidak pasti, atau pergumulan batin yang tidak terlihat orang lain. Firman Tuhan mengajak kita untuk terus berjalan, bukan dengan mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi dengan percaya pada penyertaan-Nya.

Berjalan bersama Tuhan berarti mau mendengar suara-Nya, seperti Yusuf yang peka dan taat. Berjalan bersama Tuhan juga berarti hidup dalam kasih karunia, seperti yang Paulus saksikan dalam hidupnya. Kita dipanggil untuk menjadi saksi kasih Tuhan melalui cara hidup kita, lewat kesetiaan dalam hal-hal kecil, dan lewat pengharapan yang tetap menyala.

Di Minggu ini, marilah kita meneguhkan hati. Apa pun jalan yang sedang kita tempuh, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia berjalan di depan, di samping, dan menopang kita dari belakang. Bersama Dia, setiap langkah memiliki tujuan, dan setiap perjalanan dipenuhi harapan. Amin.

(Sari Khotbah di GKI Maulana Yusuf 20 Bandung, 21 Desember 2025)