Di masa sekolah, kita sering bertemu,
Berpapasan di koridor, bersua di pintu.
Tak pernah menyapa, namun bergetar hatiku,
Tetapi keberanian selalu menjauh dariku.

Kau bintang kelas, luwes dalam pergaulan,
Sedang aku hanya diam, menyimpan perasaan.
Tak mampu berkata, tak sanggup bicara,
Cinta ini tersimpan, senyap dalam rahasia.

Hari-hari berlalu, tak pernah kembali,
Waktu menulis kisah yang tak bisa ku gapai.
Kau melangkah ke depan, aku pun menjauh,
Tanpa sepatah kata, terpisah oleh waktu.

Mungkin bagimu, aku hanya bayang samar,
Namun bagiku, kau kenangan yang takkan pudar.
Waktu membawa kita ke jalan yang berbeda,
Namun hatiku sering bertanya, apa kabarmu di sana?

Tahun-tahun berlalu begitu cepat,
Hidup pun bertalu, segalanya berubah.
Mungkin kau telah menemukan cinta sejati,
Dan aku pun menjalani takdirku sendiri.

Namun terkadang di sela malam yang sunyi,
Bayanganmu hadir, mengisi ruang hati.
Senyummu, suaramu, tawa yang dulu memikat,
Kini semua itu tinggal serpihan memori yang lekat.

Tak mungkin terulang, tak mungkin kembali,
Cinta pertama itu telah menjadi puisi.
Tertulis dalam ingatan, terukir dalam jiwa,
Semoga kau bahagia, di mana pun berada.

Andai waktu bisa kuputar kembali,
Mungkin aku berani mengungkap isi hati.
Namun hidup terus melaju, tak dapat diulang,
Cinta itu kini hanyalah serpihan kenangan.

Selamat tinggal, cinta di masa SMA,
Terima kasih telah menjadi bagian cerita.
Meskipun tak terungkap dan tak jadi bersama,
Aku akan selalu mengenangmu dalam doa.

(BSIM, 2024)