Jakarta, Indikasi.id – Kapolda Papua Irjen Pol Mathius D Fakhiri mengungkap sumber dana yang digunakan oleh dua warga sipil yang ditangkap lantaran membawa empat senjata api dan 18 amunisi.

Fakhiri menyebut mereka membeli senjata dan amunisi itu dari uang hasil pendulangan emas ilegal di perbatasan Kabupaten Pegunungan Bintang dan Boven Digoel. Fakhiri mengaku dirinya sudah menerjunkan tim untuk melakukan pengawasan yang ketat terkait itu.

“Di Boven Digoel juga kami sudah minta, kami akan siapkan tim untuk bagaimana bisa melakukan pengawasan ketat terhadap pendulangan yang ada di sana,” kata Fakhiri, Selasa (24/1).

Fakhiri mengungkapkan warga membeli senjata api dan amunisi dari uang hasil penjualan 190 gram emas senilai Rp90 juta. Senjata api dan amunisi itu digunakan untuk kepentingan kelompok bersenjata di Papua.

Emas ilegal modal kekerasan bersenjata di Papua

Dia pun membeberkan lokasi lain yang juga didapati pendulangan emas ilegal untuk sumber dana kelompok bersenjata di Papua. Beberapa di antaranya yaitu di Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, dan Kabupaten Paniai.

“Semua kekerasan bersenjata sumber uangnya dari situ,” ujarnya.

Adapun beberapa wilayah rawan yang digunakan sebagai jalur penyelundupan senjata api dan amunisi ke tanah Papua yaitu Boven Digoel, Keerom, hingga Nabire.

“Kalau di daerah Selatan-Utara ini kan mulai dari Boven Digoel, Keerom masuk Kota Jayapura. Ini kan harus kita jaga rapat di perbatasannya. Sedangkan kalau di sisi Utara, ini kan ada Nabire, kenapa Nabire? ini kan masuknya dari Manokwari dan Sorong,” kata dia.

Sebelumnya, Polda Papua menangkap dua warga sipil dengan empat senjata api dan 18 amunisi pada Kamis (19/1) lalu. (Ind)

The post Pendulangan Emas Ilegal Di Perbatasan Bintang Dan Boven Digoel first appeared on indikasi.id.

Artikulli paraprakLukas Enembe Mengajukan Surat Permohonan Tahanan Kota Ke KPK
Artikulli tjetërBacakan Pleidoi, Kuat Ma’ruf : Kapan Saya Ikut Rencakan Pembunuhan Brigadir J ?

Tinggalkan komentar anda

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.