Pada hari yang telah ditentukan, perkawinan kedua mempelai diresmikan, baik secara adat maupun agama. Umumnya, upacara perkawinan masyarakat Batak dilaksanakan di rumah orang tua pihak perempuan, yang dikenal dengan istilah dialap jual. Namun, penentuan lokasi ini sering kali disepakati melalui musyawarah antara kedua belah pihak. Secara umum, cara perkawinan yang lazim dilakukan adalah perkawinan di tempat pihak perempuan (parboru).
Lihat juga:
Tahapan Lengkap Perkawinan Dengan Adat Batak Toba Lihat di sini
Tahapan 01 Perkawinan Dengan Adat Batak Toba Lihat di sini
Tahapan 02 Perkawinan Dengan Adat Batak Toba Lihat di sini
Tahapan 03 Perkawinan Dengan Adat Batak Toba Lihat di sini
Tahapan 04 Perkawinan Dengan Adat Batak Toba Lihat di sini
Dalam peresmian perkawinan ini, terdapat beberapa rangkaian acara yang harus dilaksanakan, yaitu:
Makanan Pendahuluan (Mambahen Sibuha Buhai) Waktu peresmian perkawinan telah ditentukan saat marhata sinamot. Pada pagi hari, sekitar pukul 08.00 WIB, pihak laki-laki (paranak) beserta rombongan keluarga datang ke rumah pihak perempuan (parboru) dengan membawa sibuha buhai (makanan pendahuluan). Sibuha buhai merupakan makanan khusus (daging babi dan nasi) yang disediakan bagi pihak perempuan, karena dalam acara makan bersama nanti, pihak perempuan tidak dapat makan dengan tenang. Setelah pihak perempuan selesai makan, barulah pihak laki-laki (paranak) makan dengan lauk ikan mas yang telah disiapkan oleh pihak perempuan. Namun, dalam praktik modern, karena adanya pelayanan dari anak-anak muda, kedua pihak kini dapat makan bersama dengan lauk yang berbeda.
Saling Memberi Kembang (Marsilehonan Bunga) Setelah makan sibuha buhai, kedua pengantin dipertemukan untuk saling memberikan bunga, didampingi oleh pandongani dari masing-masing pihak. Saat ini, pemberian bunga sering kali dilakukan ketika rombongan yang membawa sibuha buhai memasuki rumah orang tua perempuan. Pengantin laki-laki lebih dahulu memberikan bunga kepada pengantin perempuan, yang kemudian diletakkan di pangkuannya. Setelah itu, pengantin perempuan menaruh bunga di kantong jas pengantin laki-laki. Acara ini ditutup dengan doa agar mereka diberkahi oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Acara Pemberkatan (Pamasu-masuon) di Gereja Setelah acara marsilehonan bunga, pengantin bersama rombongan pihak parboru dan paranak berangkat ke gereja untuk mengikuti pemberkatan yang dipimpin oleh pendeta. Sebelum pemberkatan dilakukan, pendeta atau pastor menanyakan kesediaan kedua mempelai untuk saling mengasihi dan bekerja sama dalam membangun rumah tangga berdasarkan agama yang mereka anut. Jika kedua mempelai menyatakan kesediaan mereka, pemberkatan pun dilaksanakan. Setelah pemberkatan selesai, hadirin diberikan kesempatan untuk memberikan salam kepada pengantin sebelum rombongan kembali ke tempat acara.
Acara Makan Bersama di Halaman (Mangan di Alaman) Sepulang dari gereja, acara makan bersama diadakan di halaman rumah pihak perempuan. Para parhobar (pekerja) membagikan nasi, daging, dan teh kepada para tamu. Di kota-kota besar, acara ini biasanya dilakukan di gedung pertemuan, sehingga makanan telah tersaji di meja sebelum pengantin dan rombongan tiba. Dalam acara makan ini, pihak parboru dan paranak duduk di kelompok masing-masing bersama para undangan mereka.
Acara Penyampaian Ikan Parboru (Pasahathon Dengke Parboru) Setelah acara makan dimulai, orang tua pengantin perempuan beserta keluarga terdekat menyampaikan ikan kepada pihak paranak. Sebagian ikan ini diberikan kepada pengantin dan keluarga dekat pihak laki-laki. Setelah pihak parboru memberikan dengke, pihak paranak kemudian menyampaikan tudu-tudu ni sipanganon (na mar-goor) kepada pihak parboru. Pembagian jambar dari namar-goar ini dilakukan setelah acara makan selesai. Leher dan hati dari babi panjuhuti hanya dibagikan kepada keluarga terdekat dari pihak perempuan.
Penerimaan Sumbangan oleh Paranak (Manjalo Tumpak Paranak) Setelah makan bersama, pembicara (protokol) dari pihak paranak mengundang para tamunya untuk memberikan sumbangan (pa-pungu tumpak). Para undangan meletakkan sumbangan mereka ke dalam baskom besar yang diletakkan di depan pengantin dan pihak paranak. Setelah memberikan sumbangan, mereka menyalami pengantin dan pihak paranak. Hal ini menjadi ajang bagi pihak paranak untuk mengenali para tamu yang telah memberikan sumbangan dan sekaligus sebagai bentuk penghormatan.
Pembagian Parjambaran (Tambagi Jambar) Setelah pihak paranak dan parboru duduk berhadapan, namar-goar diletakkan di tengah untuk dimusyawarahkan pembagiannya. Setelah kesepakatan tercapai, jambar dibagikan kepada pihak yang berhak menerimanya. Pembagian ini sangat dipengaruhi oleh tempat pelaksanaan pesta dan adat setempat.
Membicarakan Mas Kawin yang Masih Tertinggal (Masisisean di Alaman) Setelah pembagian namar-goar atau tudu-tudu ni sipanganon, dilanjutkan dengan acara masisisean, yaitu pembicaraan mengenai mas kawin yang masih tersisa. Dalam pembicaraan ini, pihak parboru dan paranak diwakili oleh raja parhata (protokol), yang biasanya adalah seseorang yang ahli dalam adat. Jika terdapat hal-hal sulit, keputusan akan dikonsultasikan dengan orang tua kedua mempelai. Inti dari pembicaraan ini adalah pihak paranak menyerahkan sejumlah uang kepada pihak parboru untuk didistribusikan kepada:
- Pihak parboru yang masih satu ibu satu bapak
- Pihak parboru yang sepupu
- Hula-hula dari pihak parboru, termasuk bona ni ari dari orang tua pengantin perempuan
Pemberian Ulos Parboru (Mangalehon Ulos) Setelah pihak paranak menyelesaikan pembagian jambar, pihak parboru memberikan ulos kepada pihak paranak dengan tata urutan tertentu. Ulos yang diberikan antara lain:
- Ulos Hela untuk pengantin
- Ulos Pargomgom untuk ibu pengantin laki-laki
- Ulos Pansamot untuk ayah pengantin laki-laki
- Ulos Paramaan untuk salah seorang saudara ayah pengantin laki-laki
- Ulos Tutup ni Ampang untuk boru paranak yang membawa sibuha buhai
Belakangan ini, hampir semua undangan dari pihak parboru juga turut memberikan ulos kepada pengantin, sehingga jumlah ulos yang diterima bisa mencapai ratusan lembar.
Sebagai penutup, pihak parboru memberikan ulos naso ra buruk (panseang), yang biasanya berupa sawah atau ladang. Namun, pemberian ini bisa dihilangkan, tergantung pada besarnya mas kawin yang telah diberikan oleh pihak paranak.
Dengan selesainya pemberian ulos, berakhirlah pesta peresmian perkawinan. Sebagai penutup, semua hadirin mengucapkan horas sebanyak tiga kali, lalu acara ditutup dengan nyanyian dan doa berkat dari penatua atau pendeta gereja. Sebelum pulang, pihak parboru memberikan ulak ni ampang, yaitu nasi dan ikan mas sebagai balasan atas sibuha buhai yang dibawa pihak paranak di pagi hari.
Disarikan dari berbagai sumber oleh : Bernard Simamora, S.Si., S.IP., S.H., M.H., M.M., tinggal di Bandung asal Doloksanggul Humbang Hasundutan.